Tipologi Budaya
Menurut Sonnenfeld dari
Universitas Emory (Robbins, 1996 :290-291), ada empat tipe budaya organisasi :
1. Akademi
Perusahaan suka merekrut para
lulusan muda universitas, memberi mereka pelatihan istimewa, dan kemudian mengoperasikan
mereka dalam suatu fungsi yang khusus. Perusahaan lebih menyukai karyawan yang
lebih cermat, teliti, dan mendetail dalam menghadapi dan memecahkan suatu
masalah.
2. Kelab
Perusahaan lebih condong ke arah
orientasi orang dan orientasi tim dimana perusahaan memberi nilai tinggi pada
karyawan yang dapat menyesuaikan diri dalam sistem organisasi. Perusahaan juga
menyukai karyawan yang setia dan mempunyai komitmen yang tinggi serta
mengutamakan kerja sama tim.
3. Tim Bisbol
Perusahaan berorientasi bagi para
pengambil resiko dan inovator, perusahaan juga berorientasi pada hasil yang
dicapai oleh karyawan, perusahaan juga lebih menyukai karyawan yang agresif.
Perusahaan cenderung untuk mencari orang-orang berbakat dari segala usia dan
pengalaman, perusahaan juga menawarkan insentif finansial yang sangat besar dan
kebebasan besar bagi mereka yang sangat berprestasi.
4. Benteng
Perusahaan condong untuk
mempertahankan budaya yang sudah baik. Menurut Sonnenfield banyak perusahaan
tidak dapat dengan rapi dikategorikan dalam salah satu dari empat kategori
karena merek memiliki suatu paduan budaya atau karena perusahaan berada dalam
masa peralihan.
Budaya Organisasi merupakan
bagian dari manajemen sumber daya manusia dan teori organisasi. Manajemen
budaya organisasi dilihat diri aspek prilaku, sedangkan Teori organisasi
dilihat dari aspek sekelompok individu yang berkerjasama untk mencapai tujuan, atau
organisasi sebagai wadah tempat individu bekerjasama secara rasional dan
sistematis untuk mencapai tujuan.
Dalam pekembangannya, pertama
kali budaya organisasi dikenal di Amerika dan Eropa pada era 1970-an. Salah
satu tokohnya : Edward H. Shein seorang Profesor Manajemen dari Sloan School of
Management, Massachusetts Institute of Technology dan juga seorang Ketua
kelompok Studi Organisasi 1972-1981, serta Konsultan budaya organisasi pada
berbagai perusahaan di Amerika dan Eropa. Salah satu karya ilmiahnya
Organizational Culture and Leadership.
Di Indonesia budaya organisasi
mulai dikenal pada tahun 80 sampai 90-an, saat banyak dibicarakan tentang
konflik budaya, bagaimana mempertahankan Budaya Indonesia serta pembudayaan
nilai-nilai baru.
Bersamaan dengan itu para
akademisi mulai mengkajinya dan memasukkannya ke dalam kurikulum berbagai
pendidikan formal dan infomal.
Kroeber dan Kluchon tahun 1952
menemukan 164 definisi Budaya. Akan tetapi pengertian yang penulis kemukakan di
sini hanya yang terkait dengan BO.
Taliziduhu Ndraha dalam bukunya
Budaya Organisasi mengemukakan pendapat Edward Burnett dan Vijay Sathe sebagai
berikut:
Culture or civilization, take in
its wide technografhic sense, is that complex whole which includes knowledge,
bilief, art, morals, law, custom and any other capabilities and habits acquired
by men as a member of society. Budaya
mempunyai pengertian teknografis yang luas meliputi ilmu pengetahuan,
keyakinan/percaya, seni, moral, hukum, adapt istiadat, dan berbagai kemampuan dan
kebiasaan lainnya yang didapat sebagai anggoa masyarakat.
VijaySathe:Culture is the set of
important assumption (opten unstated) that members of a community share in
common.
Budaya adalah seperangkat asumsi
penting yang
dimiliki bersama anggota masyarakat.
Edgar H. Schein :
Budaya adalah suatu pola asumsi
dasar yang diciptakan, ditemukan atau dikembangkan oleh kelompok tertentu
sebagai pembelajaran untuk mengatasi masalah adaptasi ekstrenal dan integrasi
internal yang resmi dan terlaksana dengan baik dan oleh karena itu
diajarkan/diwariskan kepada angota-anggota baru sebagai cara yang tepat
memahami, memikirkan dan merasakan terkait degan masalah-masalah tersebut.
UNSUR-UNSUR BUDAYA :
1. Ilmu Pengetahuan
2. Kepercayaan
3. Seni
4. Moral
5. Hukum
6. Adat-istiadat
7. Perilaku/kebiasaan (norma)
masyarakat
8. Asumsi dasar
9. Sistem Nilai
10. Pembelajaran/Pewarisan
11. Masalah adaptasi eksternal
dan integrasi internal
Beberapa pemikir dan penulis
telah mengadopsi tiga sudut pandang berkaitan dengan budaya, sebagai mana
dikemukakan Graves, 1986, sebagai berikut :
1. Budaya merupakan produk
konteks pasar di tempat organisasi beroperasi, peraturan yang menekan, dsb.
2. Budaya merupakan produk
struktur dan fungsi yang ada dalam organisasi, misalnya organisasi yang
tersentralisasi berbeda dengan organisasi yang terdesentralisasi.
3. Budaya merupakan produk sikap
orang orang dalam pekerjaan mereka, hal ini berarti produk perjanjian
psikologis antara individu dengan organisasi.
ORGANISASI
J.R. Schermerhorn
Organization is a collection of
people working together in a division of labor to achieve a common purpose.
Organisasi adalah kumpulan orang
yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
Philiph Selznick
Organisasi adalah pengaturan
personil guna memudahkan pencapaian beberapa tujuan yang telah ditetapkan
melalui alokasi fungsi dan tanggung jawab.
UNSUR-UNSUR ORGANISASI
1. Kumpulan orang
2. Kerjasama
3. Tujuan bersama
4. Sistem Koordinasi
5. Pembagian tugas adntanggung
jawab
6. Sumber Daya Organisasi.
BUDAYA ORGANISASI
Peter F. Drucker
BO adalah pokok penyelesaian
masalah-masalah ekternal dan internal yang pelaksanaannya dilakukan secara
konsisten oleh suatu kelompok yang kemudian mewariskan kepada angota-anggota
baru sebagai cara yang tepat untuk memahami, memikirkan, dan merasakan terhadap
masalah-masalah terkait sepeti di atas.
Phithi Sithi Amnuai
BO adalah seperangkat asumsi
dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-angota organisasi, kemudian
dikembangkan dan diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal
dan masalah-masalah integrasi internal.
Edgar H. Schein
BO mengacu ke suatu system makna
bersama, dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu terhadap
organisasi lain.
Daniel R. Denison
BO adalah nilai-nilai, keyakinan
dan prinsip-prinsip dasar yang merupakan landasan bagi system dan praktek-praktek
manajemen serta perilaku yang meningkatkan dan menguatkan perinsip-perinsip
tersebut.
Robbins,
BO dimaknai sebagai filosofi
dasar yang memberikan arahan bagi kebijakan organisasi dalam pengelolaan
karyawan dan nasabah. Lebih lanjut Robbins (2001) menyatakan bahwa sebuah
sistem makna bersama dibentuk oleh para warganya yang sekaligus menjadi pembeda
dengan organisasi lain. Sistem pemaknaan bersama merupakan seperangkat karakter
kunci dari nilai-nilai organisasi. Dalam hal ini Robbins memberikan 7 karakteristik
budaya organisasi sebagai berikut :
1. Inovasi dan keberanian
mengambil resiko
2. Perhatian terhadap detail
3. Berorientasi pada hasil
4. Berorientasi kepada manusia
5. Berorientasi pada tim
6. Agresivitas
7. Stabilitas
Ahob dkk (1991) mengemukakan 7
dimensi budaya organisasi, sebagai berikut :
1. Konformitas
2. Tanggungjawab
3. Penghargaan
4. Kejelasan
5. Kehangatan
6. Kepemimpinan
7. Bakuan mutu
Berdasarkan berbagai uaraian di
atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa BO merupakan sistem nilai yang
diyakini dan dapat dipelajari, dapat diterapkan dan dikembangkan secara terus
menerus. BO juga berfungsi sebagai perkat, pemersatu, identitas, citra, brand,
pemacu-pemicu (motivator ), pengengmbangan yang berbeda dengan organisasi lain
yang dapat dipelajaridan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan dapat
dijadikan acuan prilaku manusia dalam organisasi yang berorientasi pada
pencapaian tujuan atau hasil/target yang ditetapkan.
UNSUR-UNSUR BO
1. Asumsi dasar
2. Seperangkat nilai dan
Keyakinan yang dianut
3. Pemimpin
4. Pedoman mengatasi masalah
5. Berbagai nilai
6. Pewarisan
7. Acuan prilaku
8. Citra dan Brand yang khas
9. Adaptasi
Unsur Budaya Menurut Susanto :
1. Lingkungan Usaha
2. Nilai-nilai
3. Kepahlawanan
4. Upacara/tata cara
5. Jaringan Cultural
Tingkatan Budaya Organisasi
1. Artifact ( Physical
Characteristics; Behavior; Public Dcocuments ).
2. Espoused Value ( Strategies;
Goals; Philosophies).
3. Basic Underlying Assumptions (
Biliefs; Percption; Feeling; Aspects of behavior; Internal & external
relationships )
Level BO yg lain :
1. Assumsi dasar
2. Value
3. Norma Prilaku
4. Perilaku
5. Artefact
JENIS-JENIS BO
1. Berdasarkan Proses Informasi
a. Budaya Rasional
b. Budaya Idiologis
c. Budaya Konsensus
d. Budaya Hierarkis
2. Berdasarkan Tujuannya
a. Budaya Organisasi Perusahaan
b. Budaya Organisasi Publik
c. Budaya Organisasi Sosial
FUNGSI DAN DINAMIKA BUDAYA
ORGANISASI
Fungsi BO
1. Perasaan Identitas dan
Menambah Komitmen Organisasi
2. Alat Pengorganisasian Anggota
3. Menguatkan Nilai-Nilai dalam
Organisasi
4. Mekanisme Kontrol Prilaku (
Nelson dan Quick,1997)
TIPE BO
1. Budaya Birokrasi
2. Budaya Inovatif
3. Budaya Suporatif
Sementara itu Robbins, 2001
mengemukakan Fungsi BO, sebagai berikut :
1. Pembeda antara satu organisasi
dengan organisasi laiannya
2. Membangun rasa identitas bagi
anggota organisasi
3. Mempermudah tumbuhnya komitmen
4. Meningkatkan kemantapan system
social, sebagai perekat social, menuju integrasi organisasi.
Karakteristik BO
1. Inisiatif Individual
2. Toleransi terhadap tindakan
beresiko
3. Pengarahan
4. Integrasi
5. Dukungan manajemen
6. Kontrol
7. Identitas
8. Sistem Imbalan
9. Toleransi terhadap konflik
10. Pola komunikasi
Pembentukan BO
Deal & Kennedi, mengemukakan
lima unsur pemben BO :
1. Ligkungan Usaha
2. Nialai-nilai
3. Pahlawan
4. Ritual
5. Jaringan budaya
Proses Pembentukan BO
Proses pembentukan BO dapat di
analisis dari tiga teori sebagai berikut :
1. Teori Sociodynamic
2. Teori Kepemimpinan
3. Teori pembelajaran
Menururt Kotter dan Haskett
proses pembentukan BO, sebagai berikut :
1. Manager Puncak
2. Perilaku Organisasi
3. Hasil
4. Budaya
Berdasarkan pendapat tersebut,
penulis dapat menyimpulkan proses pemebentukan BO, sbb. :
1. Dari Atas ( Memilik dan
manajemen )
2. Dari Bawah ( masyarakat atau
karyawan )
3. Kompromi dari atas dan dari
bawah.
Mempertahankan BO
a. Praktek Seleksi
b. Manajemen Puncak
c. Sosialisasi dan Internalisasi
ASUMSI DASAR BO
1. Artifak dan Kreasi ( semua
fenomena/gejala ).
2. Nilai-nilai ( filosofi, Visi
dan misi, tujuan, larangan-larangan, standar.
3. Asumsi dasar ( hubungan dengan
lingkungan, hakikat, waktu dan ruang, sifat manusia, aktivitas mansia dll)
4. Simbol atau lambang-lambang
5. Perspektif ( Norma sosial dan
peraturan baik tertulis/tidaktertulis yang mengatur
Organisasi sebagai tempat atau
wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis,
terencana, terorganisasi, terpimpin danterkendali, dalam memanfaatkan sumber
daya organisasi ( uang, material, mesin, metode, lingkungan, sarana-parasarana,
data, dll ) secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan. Kerjasama dimaksud adalah kerjasama yang terarah pada pencapaian
tujuan. Kerjasama yang terarah tersebut dilakukan dengan mengikuti pola
interaksi antar setiap individu atau kelompok. Pola interaksi tersebut
diselaraskan dengan berbagai aturan, norma, keyakinan, nilai-nilai tertentu
sebagaimana ditetapkan oleh para pendiri organisasi itu. Keseluruhan pola
interaksi tersebut dalam waktu tertentu akan membentuk suatu kebiasaan bersama
atau membentuk budaya organisasi.
Menurut pendapat Tika ( 2006 : 1
) ? Budaya Organisasi merupakan bagian dari kuriukulum Manajemen Sumber Daya
manusia dan Teori Organisasi ?. Budaya organisasi dalam MSDM, ditemukan saat
mengkaji aspek prilaku, sedangkan Budaya Organisasi dalam Teori organisasi,
ditemukan saat mengkaji aspek sekelompok individu yang berkerjasama untuk mencapai
tujuan, atau organisasi sebagai wadah tempat individu bekerjasama secara
rasional dan sistematis untuk mencapai tujuan.
Dalam pekembangannya, pertama
kali Budaya Organisasi dikenal di Amerika dan Eropa pada era 1970-an. Salah
satu tokohnya : Edward H. Shein seorang Profesor Manajemen dari Sloan School of
Management, Massachusetts Institute of Technology dan juga seorang Ketua
kelompok Studi Organisasi 1972-1981, serta Konsultan Budaya Organisasi pada
berbagai organisasi di Amerika dan Eropa. Salah satu karya ilmiahnya :
Organizational Culture and Leadership.
Di Indonesia Budaya Organisasi
menurut Ndraha ( 1997 : 3) mengemukakan bahwa sejak tahun 80-an saat sektor
swasta berkesempatan mengembangkan usaha di bidang non-migas, kebutuhan akan
pembudayaan nilai-nilai baru tentang kewirausahaan dan amanejemen. Alvin dan
Heide Toffler menyebutnya ?wave?. Kemudian pada tahun 90-an banyak dibicarakan
tentang kebutuhan niali-nilai baru, konflik budaya, dan bagaimana
mempertahankan Budaya Indonesia serta pembudayaan nilai-nilai baru.Bersamaan
dengan itu para akademisi mulai mengkajinya dan memasukkannya ke dalam
kurikulum berbagai pendidikan formal dan infomal. Salah satu pakar yang cukup
gigih mengembangkan Budaya Organisasi adalah Taliziduhu Ndraha, seorang pakar
Ilmu Pemerintahan.
No comments:
Post a Comment